Perbandingan ekspresi sitokin proinflamasi interferon-gamma dan antiinflamasi interleukin-10 pada whole blood culture terhadap pajanan mikroorganisme yang distimulasi dengan phytohemagglutinin pada subjek di pemukiman kumuh dan non kumuh

Authors

  • Talitha Vania Salsabella Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya No. 6, Jakarta Pusat, 10430, Indonesia
  • Ndaru Andri Damayanti Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Yarsi, Jalan Letjend Suprapto No.Kav. 13, Cempaka Putih, Jakarta Pusat 10510, Indonesia
  • Heri Wibowo Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Pegangsaan Timur 16, Cikini, Jakarta Pusat 10320

DOI:

https://doi.org/10.30644/rik.v11i2.634

Keywords:

daerah kumuh; daerah nonkumuh; interferon-gamma; interleukin-10; phytohemagglutinin, interferon-gamma, interleukin-10, non-slum, phytohemagglutinin, slum

Abstract

Abstrak

 

Latar Belakang : Kondisi permukiman dapat mempengaruhi tingkat pajanan mikroorganisme penduduknya. Penduduk yang tinggal di daerah kumuh memiliki risiko lebih tinggi untuk terpajan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ekspresi IFN-γ dan IL-10 pada whole blood culture (WBC) penduduk daerah kumuh dan nonkumuh yang distimulasi oleh phytohemagglutinin (PHA).

Metode : Penelitian potong-lintang dilakukan untuk menentukan perbedaan kadar IFN-γ dan IL-10 pada WBC yang berasal dari subjek daerah kumuh dan nonkumuh yang distimulasi dengan mitogen PHA. Data sitokin merupakan data sekunder.

Hasil : Kadar IFN-γ pada kondisi basal ditemukan secara signifikan lebih tinggi pada kelompok nonkumuh daripada kelompok kumuh (p=0,004). Temuan serupa terlihat pada kadar IL-10 basal (p=0,002). Pascastimulasi PHA, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada kadar IFN-γ (p=0,488), sedangkan kadar IL-10 pascastimulasi PHA secara signifikan lebih tinggi pada kelompok kumuh dibandingkan nonkumuh (p=0,001). Rasio IFN-γ terstimulasi/IFN-γ basal secara signifikan lebih tinggi pada kelompok kumuh dibandingkan nonkumuh (p=0,010) dan rasio IL-10 terstimulasi/IL-10 basal juga secara signifikan lebih tinggi pada kelompok kumuh dibandingkan nonkumuh (p=0,004). Potensi inflamasi dinilai dengan rasio keseimbangan IFN-γ terhadap IL-10, didapatkan potensi inflamasi yang secara signifikan lebih tinggi pada daerah nonkumuh dibandingkan daerah kumuh (p=0,002). Kedua sitokin menunjukkan korelasi positif yang cukup kuat dan signifikan, terutama terlihat pada kelompok kumuh (R=0,642 dan p=0,002).

Kesimpulan : Terdapat perbedaan kadar sitokin IFN-γ dan IL-10 pada kelompok kumuh dan nonkumuh pada kondisi basal. Pascastimulasi PHA perbedaan hanya terlihat pada kadar IL-10. Rasio keseimbangan kedua sitokin di kedua kelompok berbeda, menunjukkan potensi inflamasi kelompok nonkumuh lebih kuat dibandingkan kelompok kumuh. Terdapat korelasi positif antara sitokin IFN-γ dan IL-10 dimana peningkatan IFN-γ akan diikuti dengan peningkatan IL-10, terutama terlihat pada kelompok kumuh.

Published

2026-06-16 — Updated on 2022-12-31